Info: Your browser does not accept cookies. To put products into your cart and purchase them you need to enable cookies.
Layla Majnun
Barack Obama |
||
|
Barack Obama Menerjang Harapan Dari Jakarta Menuju Gedung Putih Kata Pengantar : Budiarto Shambazy, Wartawan Senior Koran Kompas 15 x 23.5 cm 582 halaman Hard Cover |
||
|
| ||
| ( Ufuk Press ) |
||
|
Rp. 99 900.00
|
||
| Ask a question about this product | ||
|
Obama lahir di Hawaii pada 4 Agustus 1961, dari pasangan Barack "Hussein" Obama Senior, seorang mahasiswa ekonomi dan penganut Muslim yang taat dari Kenya, dan Ann Dunham, seorang perempuan kulit putih dari Kansas. Kedua orangtuanya bercerai ketika Obama berumur dua tahun. Ibunya menikah kembali dengan orang Indonesia dan pindah ke Indonesia ketika Obama berumur enam tahun. Ia dan ibunya tinggal di Jakarta selama empat tahun, ia pun pernah menyebut dirinya sebagai Jakarta's street kid. Kematian ayahnya begitu memukul dirinya dan membawanya dalam sebuah belenggu. Nyatanya, ia hanya sekali melihat ayahnya sejak kedua orangtuanya bercerai, ketika Obama berusia sepuluh tahun. Seiring dengan meningkatnya popularitas dirinya secara internasional, Obama menuliskan riwayat dan pandangan hidupnya. Dreams from My Father adalah karya pertamanya, sedangkan buku dalam genggaman Anda ini adalah yang kedua. Dalam buku ini, ia menyampaikan berbagai hal; mulai dari kehidupan pribadinya (satu bab khusus membahas saat ia tinggal di Indonesia), dunia kebijakan, politik, masalah sosial, agama, hingga hubungan internasional. Di tengah-tengah amukan dan serangan publik dunia terhadap ketidakbecusan Bush memimpin Amerika, lahir seorang heal-maker (pemimpin yang merangkul) sekaligus deal-maker (seorang yang mampu menjawab persoalan-persoalan praktis). Ia muncul secara tak terduga dan dalam waktu relatif singkat mampu mengubah peta politik, menumbuhkan harapan dan gairah baru. Selamat menyelami dunia pikiran Obama! "Obama mampu menceritakan kepekaannya terhadap ironi dan tragedi dalam interaksi sosial, dimensi-dimensi manusiawi dari setiap persoalan yang ditemuinya, dan orang-orang yang bersentuhan dengannya dalam penuturan yang sederhana namun cerdas dan mengalir." -Rizal Mallarangeng, Direktur Eksekutif Freedom Institute,Jakarta "Di zaman kita yang penuh kecurangan dan tanpa ruh ini, bakat Obama dalam mengusulkan solusi-solusi yang manusiawi dan masuk-akal dengan ungkapan yang elegan dan meningkatkan semangat dan pemikiran benar-benar memenuhi harapan kita." -Michael Kazin, Washington Post "Obama menggunakan kosakata yang segar dan ringan untuk membersihkan sebagian racun dari perdebatan politik kontemporer.." -John Balzar, Los Angeles Times |
||
|
|
||




