Di sebuah desa, tinggallah seorang janda dengan dua anak perempuannya yang bernama Bawang Merah dan Bawang Putih. Bawang Putih adalah anak kandung dari ibu tersebut, namun sayang ibunya lebih menyayangi Bawang Merah dan sangat membeda-bedakan. Bawang Putih selalu disuruh melakukan semua pekerjaan rumah yang berat, sedangkan Bawang Merah hanya bersenang-senang.
Suatu hari, selendang kesayangan Bawang Putih hanyut terbawa arus sungai saat ia sedang mencuci pakaian. Bawang Putih mengejar selendang itu sambil menangis hingga ia bertemu dengan seorang nenek peri yang tinggal di dalam sungai.
"Nak, jangan menangis. Nenek akan membantu mencarikan selendangmu, asalkan kamu mau membantu Nenek membersihkan rumah dan memasak," kata Nenek itu baik hati.
Bawang Putih yang rajin pun setuju. Ia bekerja dengan sangat giat, sopan, dan tidak pernah mengeluh. Setelah selesai, Nenek Peri mengembalikan selendangnya dan memberikan hadiah.
"Kamu anak yang baik. Pilihlah satu labu untuk dibawa pulang sebagai hadiah."
Ada dua labu, satu besar dan satu kecil. Bawang Putih yang rendah hati memilih yang paling kecil saja. "Saya ambil yang kecil saja Nek, cukup buat saya dan ibu."
Sesampainya di rumah, Bawang Putih membelah labu itu. Ajaib! Isinya bukan daging buah, melainkan emas dan permata yang berkilauan sangat banyak! Mereka menjadi kaya raya.
Melihat Bawang Putih dapat emas, Bawang Merah dan ibunya menjadi iri dan serakah. Mereka menanya rahasianya. Setelah tahu, keesokan harinya Bawang Merah sengaja membuang selendangnya sendiri ke sungai, lalu menangis memanggil Nenek Peri.
Nenek Peri muncul dan memintanya bekerja. Namun Bawang Merah itu malas, kasar, dan pemalas. Ia hanya mengerjakan pekerjaan seenaknya saja. Saat diberi hadiah, ia dengan serakah langsung memilih labu yang paling besar dan paling berat. "Ini yang aku mau! Pasti isinya lebih banyak emas!" serunya serakah.
Sepulang ke rumah, Bawang Merah dan ibunya dengan semangat membelah labu besar itu. Krak! Labu itu terbuka. Namun, bukannya emas yang keluar, melainkan ular-ular kecil, kalajengking, dan binatang berbisa lainnya! Ular-ular itu melata keluar dan mengejar mereka. Mereka berteriak ketakutan dan akhirnya sadar bahwa itu semua adalah balasan dari sifat jahat dan serakah mereka.
Sejak saat itu, Bawang Merah dan ibunya berjanji akan berubah menjadi lebih baik dan menyayangi Bawang Putih dengan tulus.
Pesan Moral:
Jadilah orang yang rajin, sopan, dan rendah hati. Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, sedangkan kejahatan dan keserakahannya akan mendatangkan malapetaka bagi diri sendiri.
