Dahulu kala, pada zaman yang sangat lama sekali, tanaman padi memiliki bentuk yang sangat ajaib dan luar biasa. Batangnya kokoh kuat, dan butiran padinya sangat banyak, besar, dan padat. Hanya dengan satu atau dua tangkai padi saja, seseorang sudah bisa mendapatkan beras yang cukup untuk dimakan selama setahun penuh. Manusia tidak perlu bekerja terlalu keras, karena tanah sangat subur dan hasil panen melimpah ruah tanpa perlu usaha yang berat.
Di sebuah desa, hiduplah seorang wanita cantik bernama Putri Tangguk. Ia hidup berkecukupan dan sangat bahagia bersama suaminya yang ia cintai. Namun, karena makanan begitu mudah didapatkan dan melimpah ruah, lama-kelamaan Putri Tangguk menjadi orang yang kurang bersyukur dan sering menyia-nyiakan nikmat Tuhan. Ia tidak pernah menghargai makanan, sering membuang-buang nasi, dan merasa bahwa padi itu adalah hal yang murah dan tidak berharga.
Suatu malam yang sangat gelap dan lewat tengah malam, Putri Tangguk terbangun karena rasa laparnya. Ia membangunkan suaminya yang sedang tidur pulas.
"Suamiku, bangunlah. Aku lapar, tolong buatkan aku nasi dan lauk pauk yang enak," pinta Putri Tangguk.
Suaminya yang sangat penyayang dan patuh, meskipun mengantuk berat, ia tetap bangun. Ia menyalakan api dapur, menanak nasi, dan memasak dengan sabar demi memenuhi keinginan istrinya. Makanan pun jadi disajikan dengan hangat dan lezat.
Namun, saat suaminya menyodorkan nasi itu, Putri Tangguk justru memasang wajah cemberut. Entah kenapa, hatinya sedang kesal dan emosinya sedang tidak stabil.
"Aduh, panas sekali! Kenapa kau berikan aku makanan yang panas-panas begini! Kau sengaja ingin membakar mulutku ya?" bentak Putri Tangguk.
Suaminya mencoba menenangkan, "Sabarlah sayang, kan baru saja matang, biarkan sebentar lagi dingin..."
"Tidak mau! Aku tidak mau makan ini! Pergi kau!"
Dalam kemarahannya, Putri Tangguk mendorong tangan suaminya hingga nasi yang ada di piring itu tumpah berceceran ke lantai yang tanah. Butiran-butiran nasi yang putih dan bersih itu jatuh berserakan.
Suaminya merasa sangat sedih dan tersinggung. Hatinya sakit melihat istrinya bersikap kasar dan menyia-nyiakan makanan yang seharusnya disyukuri. Tanpa berkata apa-apa, pria itu keluar rumah dan berjalan menuju ke sawah dengan hati yang berat.
Sadar telah berkata kasar, Putri Tangguk segera menyesal. Ia mengejar suaminya sambil membawa sisa nasi lainnya, berniat memohon maaf.
"Suamiku, tunggu! Maafkan aku!" teriaknya.
Namun suaminya terus berjalan cepat dan menjauh. Saat menuruni tebing sawah, Putri Tangguk terpeleset dan jatuh. Nasi yang dibawanya pun tumpah seluruhnya ke tanah dan bercampur dengan lumpur.
Putri Tangguk menangis histeris. Ia marah pada dirinya sendiri, marah pada nasib, dan dalam kekesalannya yang luar biasa, ia menginjak-injak butiran nasi yang jatuh di tanah itu dengan kakinya.
"Kenapa semua ini terjadi?! Apa gunanya makanan ini kalau membuatku sedih!" teriaknya sambil terus menginjak dan menghancurkan butiran nasi itu.
Tiba-tiba, terdengar suara yang sangat halus namun menggetarkan hati yang keluar dari butiran nasi yang terinjak itu.
"Aduh... Jangan injak aku, Putri... Sakit..."
Putri Tangguk terkejut. Ia melihat butiran nasi itu bergerak-gerak dan melompat-lompat menuju ke arah tanaman padi di sawah.
"Maafkan kami... Karena manusia sudah tidak lagi menghargai kami dan menyia-nyiakan kami, maka mulai saat ini kami tidak akan tinggal lagi dalam butiran yang besar. Kami akan memecah diri menjadi butiran-butiran yang kecil dan banyak," suara itu berbisik.
Sejak saat itu, berubahlah bentuk tanaman padi menjadi seperti yang kita lihat sekarang. Tangkainya menjadi bercabang-cabang, butirannya kecil-kecil, dan jumlahnya tidak sebanyak dulu. Manusia harus bekerja sangat keras, membajak, menanam, dan memanen dengan susah payah hanya untuk mendapatkan sedikit beras. Putri Tangguk pun sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan besar yang merugikan seluruh umat manusia.
Pesan Moral:
Makanan adalah anugerah terindah dari Tuhan. Jangan pernah menyia-nyiakannya, membuangnya sembarangan, atau meremehkannya. Selalu bersyukur dan hargai keringat orang lain yang telah bekerja keras memproduksi makanan tersebut.
