Di sebuah desa yang jauh dari keramaian, hiduplah seorang janda tua bernama Mbok Srini. Ia hidup sebatang kara dan merasa sangat kesepian. Mbok Srini sangat mendambakan kehadiran seorang anak untuk menemaninya di hari tua. Setiap malam ia berdoa dengan khusyuk, "Ya Tuhan, berilah aku seorang anak, sekecil apa pun itu, agar aku tidak merasa sendirian lagi."
Doanya didengar, namun jalan yang ditempuhnya sangat berisiko. Konon, untuk mendapatkan anak, ia harus menemui seorang raksasa yang tinggal di gua di kaki gunung. Raksasa itu memiliki kekuatan gaib. Dengan hati gemetar, Mbok Srini pergi menemui raksasa itu.
"Aku bisa memberimu anak," kata Raksasa dengan suara garau yang menggetarkan hati. "Tapi ada syaratnya. Saat anak itu berumur 17 tahun, kau harus menyerahkannya padaku untuk kujadikan santapanku!"
Mbok Srini yang sangat ingin memiliki anak akhirnya menyanggupi syarat itu, walau hatinya merasa cemas. Raksasa itu memberikan sebuah biji mentimun ajaib. Mbok Srini pulang dan menanam biji itu di kebun belakang rumahnya.
Ajaib! Tak berapa lama, tanaman itu tumbuh besar dan berbunga. Salah satu buahnya membesar dengan sangat cepat dan berwarna keemasan. Saat dibelah, ternyata di dalamnya terdapat seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan lucu. Mbok Srini sangat bahagia. Ia menamai anak itu Timun Mas.
Waktu berlalu begitu cepat. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik, cerdas, dan sangat berbakti kepada ibunya. Namun, kebahagiaan itu tercampur rasa takut di hati Mbok Srini. Ia ingat janjinya 17 tahun yang lalu.
Saat ulang tahun Timun Mas yang ke-17 tiba, langit tiba-tiba menjadi gelap. Bum! Bum! Bum! Tanah terasa bergetar. Itu adalah suara langkah kaki Raksasa! Dia datang menagih janji!
"Mbok Srini!! Serahkan anakmu sekarang!!" teriak Raksasa dari luar pagar.
Mbok Srini menangis dan memeluk Timun Mas. "Larilah nak, selamatkan dirimu! Itu Raksasa jahat yang ingin memakanmu!" Mbok Srini menyerahkan empat bungkusan kecil yang sudah disiapkannya sejak lama. "Bawalah ini, gunakan saat bahaya datang!"
Timun Mas pun berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah. Raksasa melihatnya dan segera mengejar. "Hahaha! Jangan lari kecil! Kau akan menjadi makan malam yang lezat!" seru Raksasa sambil tertawa keras. Langkah kakinya yang besar membuatnya semakin dekat dengan Timun Mas.
Timun Mas merasa napas raksasa sudah terasa di lehernya. Ia segera mengambil bungkusan pertama dan melemparnya ke belakang. Bungkusan itu pecah dan berhamburan menjadi biji mentimun. Dalam sekejap mata, tanah berubah menjadi hutan rimba mentimun yang batangnya besar-besar dan memiliki duri yang sangat tajam!
Duri-duri itu menusuk tubuh Raksasa. "Aduh! Sakit sekali! Jeritnya. Ia berusaha menerobos hutan duri itu dengan susah payah, tangannya berdarah-darah. Namun karena badannya sangat kuat, ia berhasil lolos dan terus mengejar.
Jarak mereka kembali dekat. Timun Mas melempar bungkusan kedua. Isinya adalah garam. Tiba-tiba, tempat raksasa berpijak berubah menjadi lautan luas yang sangat dalam! Raksasa harus berenang dengan susah payah menyeberangi lautan itu. Badannya yang besar hampir tenggelam, tapi ia berhasil naik ke daratan dan terus mengejar dengan napas memburu.
"Berhenti kau!!" teriak Raksasa makin marah. Kini ia sudah sangat dekat, tangannya hampir bisa menyambar baju Timun Mas.
Gadis kecil itu segera melempar bungkusan ketiga. Isinya adalah terasi. Brakk! Seketika itu juga tempat itu berubah menjadi rawa-rawa lumpur yang sangat panas dan mendidih! Raksasa terperosok ke dalamnya. Lumpur panas itu membuatnya sulit bergerak. Kulitnya melepuh terbakar panasnya lumpur tersebut. Ia berteriak kesakitan, namun dengan sisa tenaga yang ada, ia terus merayap keluar. Ia semakin ganas dan marah.
"AKU AKAN MEMAKANMU HIDUP-HIDUP!"
Timun Mas mulai kehabisan tenaga. Kakinya terasa berat. Ia melihat Raksasa sudah sangat dekat, wajahnya mengerikan dengan darah dan lumpur menempel di tubuhnya. Tinggal satu bungkusan tersisa. Ini adalah harapan terakhirnya.
Dengan sekuat tenaga, Timun Mas melempar bungkusan keempat. Isinya adalah cabai rawit.
Srrtt... Brakk!
Tiba-tiba langit menjadi gelap dan turunlah hujan yang bukan air, melainkan ribuan bahkan jutaan cabai rawit yang sangat pedas dan tajam! Cabai-cabai itu menghujani tubuh Raksasa.
Mata Raksasa perih luar biasa, mulutnya terasa terbakar pedasnya. Kulitnya melepuh dan gatal. Ia meronta-ronta kesakitan. "Panas! Panas! Mataku buta! Aduh sakitnya!!" teriaknya kencang. Karena kelelahan, kepedasan, dan luka-luka yang diderita, akhirnya Raksasa itu menghembuskan napas terakhir dan mati di tempat itu.
Timun Mas berhenti berlari, ia menoleh ke belakang dan melihat Raksasa sudah tidak bergerak. Ia selamat! Dengan hati lega, Timun Mas pun berjalan pulang menemui ibunya. Mbok Srini menangis haru melihat anaknya selamat. Sejak saat itu, mereka hidup bahagia dan aman selamanya.
Pesan Moral:
Ketaatan kepada orang tua dan keberanian dalam menghadapi bahaya akan menyelamatkan kita dari segala mara bahaya. Jangan pernah mudah menyerah meski musuh terlihat jauh lebih besar dan kuat dari kita.
.jpg)