Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang tidak mendapatkan tidur yang cukup (kurang dari 7 jam per malam), terjadi perubahan pada hormon-hormon pengatur nafsu makan tubuh. Hormon ghrelin, yang bertugas merangsang rasa lapar, akan meningkat kadarnya. Sementara itu, hormon leptin, yang bertugas memberi sinyal kenyang pada otak, justru menurun. Akibatnya, tubuh merasa lebih lapar dari biasanya. Namun, bukan hanya jumlah makanan yang bertambah, tapi juga jenis makanan yang diinginkan. Otak yang kurang istirahat akan mencari "bahan bakar cepat" dalam bentuk gula dan lemak tinggi untuk mendapatkan energi instan. Inilah sebabnya mengapa saat kita lelah dan mengantuk, kita cenderung sangat menginginkan makanan cepat saji, camilan manis, atau makanan berlemak.
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan yang berbahaya bagi kesehatan. Kurang tidur menyebabkan keinginan makan makanan tidak sehat, yang kemudian bisa menyebabkan kenaikan berat badan, obesitas, dan risiko diabetes, yang pada gilirannya bisa semakin mengganggu kualitas tidur. "Banyak orang tidak menyadari bahwa masalah berat badan mereka mungkin berakar dari masalah tidur mereka. Memperbaiki pola tidur bisa menjadi kunci untuk memperbaiki pola makan," ujar Dr. Michael Walker, peneliti tidur terkemuka. Oleh karena itu, jika Anda sedang berusaha menjaga berat badan atau pola makan sehat, memastikan tidur yang cukup dan berkualitas adalah langkah awal yang sangat krusial.
