Misteri Gunung Tangkuban Perahu! Kisah Cinta Terlarang Ibu dan Anak yang Berakhir Tragis






 Dahulu kala, di tanah Parahyangan, hiduplah seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Dayang Sumbi. Kecantikannya tiada tara, namun ia memiliki sifat yang agak keras dan pemarah. Ia hidup bersama seorang anak laki-laki yang ia temukan di hutan dan diadopsi sebagai anaknya sendiri, bernama Sangkuriang.

 

Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan, kuat, dan sakti mandraguna. Ia sangat suka berburu di hutan. Setiap kali berburu, ia selalu ditemani oleh anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tanpa disadari Sangkuriang, Tumang sebenarnya adalah titisan dewa dan ayah kandungnya sendiri.

 

Suatu hari, saat berburu, Sangkuriang gagal mendapatkan hewan buruan. Karena kesal, ia malah membunuh Tumang dan mengambil hatinya untuk dibawa pulang dan dihidangkan kepada ibunya. Dayang Sumbi sangat menikmati masakan itu hingga ia bertanya, "Daging apa ini sangat enak, Nak?"

 

"Ini hati Tumang, Bu," jawab Sangkuriang dengan santai.

 

Mendengar itu, Dayang Sumbi sangat marah dan kaget. Ia mengambil sendok nasi atau lesung dan memukul kepala Sangkuriang hingga berdarah. "Kau anak durhaka! Kau membunuh hewan kesayangan Ibu! Pergi kau dari sini! Ibu tidak mau melihat wajahmu lagi!"

 

Karena sakit hati dan dimarahi, Sangkuriang pun pergi mengembara jauh meninggalkan rumahnya. Ia pergi ke negeri seberang dan bertahun-tahun lamanya tidak pernah pulang.

 

Waktu terus berlalu. Karena kesaktiannya, Dayang Sumbi memiliki wajah yang tetap awet muda dan cantik meski usianya sudah sangat tua. Di tempat lain, Sangkuriang pun tumbuh dewasa dan menjadi pemuda yang sangat tangguh.

 

Suatu hari, Sangkuriang kembali ke kampung halamannya. Ia tidak mengenali lagi tempat itu dan tidak mengenali ibunya sendiri. Di sana ia bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita. Tanpa sadar, ia jatuh cinta dan melamar wanita itu. Wanita itu adalah Dayang Sumbi.

 

Dayang Sumbi menerima lamaran itu karena ia juga tertarik dengan ketampanan Sangkuriang. Namun, suatu hari saat sedang menyisir rambut Sangkuriang, Dayang Sumbi melihat bekas luka di kepalanya. Ia teringat masa lalu. Itu adalah bekas pukulannya dulu!

 

Ternyata pria yang ia cintai dan akan dinikahinya adalah anak kandungnya sendiri! Hati Dayang Sumbi hancur bercampur takut. Ia harus membatalkan pernikahan ini dengan cara apa pun.

 

"Aku mau menikah denganmu, tapi ada syaratnya," kata Dayang Sumbi.

"Apa syaratnya, Cantik? Akan aku penuhi!" jawab Sangkuriang sombong.

"Buatlah aku sebuah danau dan sebuah perahu yang sangat besar, semuanya harus selesai dalam waktu satu malam, sebelum ayam berkokok!"

 

Sangkuriang menyanggupinya karena ia memiliki banyak pengikut jin. Saat malam tiba, Sangkuriang memerintahkan jin-jin untuk bekerja. Batu-batu besar dipindahkan dengan mudah, air dialirkan menjadi danau. Pekerjaan itu hampir selesai. Perahu besar hampir rampung dibuat.

 

Dayang Sumbi panik. Ia segera meminta bantuan penduduk desa. Ia menyuruh wanita-wanita menumbuk padi di lesung-lesung dan membentangkan kain-kain putih di timur. Suara lesung yang berdentum membuat ayam-ayam berkokok mengira pagi sudah tiba. Cahaya putih di timur pun terlihat menyilaukan.

 

Para jin ketakutan, "Tuan! Pagi sudah datang! Kita harus pergi sebelum matahari terbit!" Mereka pun lari tunggang langgang meninggalkan pekerjaan yang belum selesai total.

 

Sangkuriang sangat marah. Ia tahu ini ulah Dayang Sumbi. "Gagal! Semuanya gagal karena kau!"

 

Dengan amarah yang memuncak, ia menendang perahu besar yang baru dibuatnya itu dengan sekuat tenaga. Perahu itu melayang dan jatuh terbalik di atas bukit. Lama kelamaan, perahu itu berubah menjadi gunung yang hingga sekarang kita kenal sebagai Gunung Tangkuban Perahu, yang artinya Perahu yang Terbalik.

 

Pesan Moral:

Janganlah mudah marah dan emosi, karena amarah biasanya membawa penyesalan di kemudian hari. Hormati dan sayangilah orang tua serta janganlah melanggar aturan Tuhan.