Di sebuah lembah hijau yang dikelilingi bukit-bukit kecil, hiduplah seekor kelinci berbulu putih bersih bernama Lolo. Lolo dikenal oleh seluruh penghuni hutan sebagai hewan yang sangat lucu, namun juga sangat penakut. Ia takut pada bayangan pohon yang bergoyang tertiup angin, takut pada suara petir yang menggelegar, bahkan ia sering lari terbirit-birit hanya karena melihat kepompong yang jatuh dari daun.
"Tidak apa-apa, Lolo. Kamu memang kecil, jadi wajar jika kamu merasa takut," kata teman-temannya sambil menenangkan. Namun, Lolo merasa sedih. Ia ingin sekali menjadi kuat dan berguna, tapi jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali menghadapi sesuatu yang asing.
Suatu sore, langit mendadak berubah menjadi gelap pekat. Angin bertiup kencang membawa bau tanah basah. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh keras dari arah bukit. Dug! Brkkk!
Ternyata, terjadi tanah longsor kecil di dekat gua tempat bermain. Sahabat-sahabat Lolo—seekor tupai, dua ekor burung pipit, dan seekor landak—sedang berada di dalam gua dan terjebak! Pintu masuk mereka tertutup bebatuan, dan hanya tersisa celah kecil yang gelap.
"Tolong kami! Tolong kami!" teriak mereka dari dalam dengan suara parau.
Semua hewan lain panik. Mereka berkumpul di luar, namun tidak ada yang berani masuk. Jalan menuju ke sana harus melewati lorong sempit yang sangat gelap, lembap, dan penuh akar pohon yang menjuntai seperti tangan-tangan hantu.
"Terlalu gelap! Aku tidak bisa melihat!" seru Beruang.
"Ada suara aneh, aku takut!" kata Kancil.
Lolo berdiri di belakang kerumunan. Matanya membelalak melihat situasi itu. Ia gemetar hebat. Kakinya terasa lemas seperti jeli. Namun, saat ia mendengar tangisan sahabatnya yang meminta tolong, sesuatu di dalam hatinya berubah. Rasa takut itu masih ada, tapi rasa khawatir dan sayang pada temannya jauh lebih besar.
"Aku... aku akan mencobanya," bisik Lolo pelan.
Semua mata tertuju padanya. "Kamu yakin, Lolo? Di sana sangat gelap dan menyeramkan," tanya Gajah dengan ragu.
"Aku harus mencoba. Mereka butuh aku," jawab Lolo kali ini dengan suara yang lebih tegas, meski bibirnya masih sedikit gemetar.
Lolo melangkah masuk ke dalam kegelapan. Segera saja, cahaya matahari hilang. Suasana menjadi hening dan dingin. Angin yang berhembus melalui celah batu menciptakan suara melengking yang menyeramkan. Wuuuuuu...
Lolo ingin berbalik arah dan lari sekencang-kencangnya. Ia membayangkan ada monster di setiap sudut. Ia membayangkan akar pohon itu adalah ular besar. Tapi ia mengingat wajah teman-temannya. Ia menarik napas panjang.
"Keberanian bukan berarti tidak takut," gumam Lolo mengingat kata-kata ibunya, "Keberanian adalah bertindak meskipun kamu sedang takut."
Lolo mulai melangkah perlahan. Ia tidak lagi memikirkan bayangan-bayangan menakutkan itu. Ia fokus pada tujuannya: mencari jalan keluar lain atau mencari bantuan. Di tengah kegelapan, ia menemukan jalan setapak yang menanjak ke atas. Ia berlari sekencang-kencangnya melewati hutan yang gelap itu. Rasa takutnya justru mengubah kakinya menjadi sangat cepat.
Akhirnya, ia keluar dari sisi lain bukit dan langsung berlari menuju rumah Pak Rusa yang tinggal tidak jauh dari sana. Dengan terengah-engah, Lolo memberitahu kejadian itu. Pak Rusa segera memanggil warga hutan lainnya yang lebih kuat.
Mereka segera bekerja sama memindahkan bebatuan. Setelah bekerja keras selama berjam-jam, pintu gua terbuka. Teman-teman Lolo keluar dengan selamat, meski sedikit lelah.
Mereka semua langsung memeluk Lolo. "Terima kasih, Lolo! Kamu hebat sekali!" seru mereka.
Sejak hari itu, tidak ada lagi yang menyebut Lolo sebagai kelinci penakut. Mereka tahu, di balik tubuh kecilnya, tersimpan hati yang sangat besar dan berani. Lolo pun tersenyum bangga. Ia sadar, rasa takut itu wajar, tapi kita tidak boleh membiarkan rasa takut itu menghentikan kita untuk berbuat baik.
Pesan Moral: Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut sama sekali, melainkan kemampuan untuk bertindak dan melangkah maju meskipun hati sedang gemetar.
