Di tengah sebuah taman yang sangat luas dan indah, terdapat berbagai jenis bunga yang bermekaran dengan warna-warni yang memukau. Ada bunga mawar merah yang anggun, bunga melati yang wangi, dan ada juga Bunga Matahari yang tinggi besar dengan warna kuning cerah.
Bunga Matahari ini sangat cantik. Kelopaknya rapi dan mahkotanya besar. Karena penampilannya yang memikat, ia pun merasa sangat sombong. Ia menganggap dirinya adalah bunga tercantik dan terpenting di taman itu. Ia suka memamerkan dirinya ke setiap orang yang lewat.
Namun, selain sombong, Bunga Matahari ini juga sangat pelit. Ia memiliki cadangan nektar yang sangat manis dan banyak di dalam tangkainya. Nektar itu adalah makanan favorit bagi serangga-serangga kecil seperti lebah dan kupu-kupu.
Suatu pagi yang cerah, sekelompok lebah madu yang dipimpin oleh Ratu Lebah datang terbang berkeliling. Sayap mereka berdengung bzzzz... bzzzz... dengan riang. Mereka sedang mencari makanan untuk anak-anak mereka di sarang.
Ratu Lebah melihat Bunga Matahari yang tampak segar dan menggoda. Ia pun mendekat dengan sopan.
"Selamat pagi, Bunga Matahari yang cantik. Perkenalkan aku Ratu Lebah. Bolehkah kami meminta sedikit nektarmu? Kami sangat lapar dan butuh makanan," tanya Ratu Lebah dengan ramah.
Bunga Matahari mendengus malas. Ia menutup kelopaknya sedikit agar lebah tidak bisa masuk.
Hush! Pergi kalian! Jangan berani-beraninya menyentuhku!" bentak Bunga Matahari dengan ketus. "Nektar ini adalah milikku! Aku menyimpannya untuk diriku sendiri agar aku tetap cantik dan segar. Kalau aku berikan pada kalian, nanti aku jadi kurus dan layu!"
"Tapi, Nona Bunga..." coba Ratu Lebah menjelaskan dengan sabar, "Jika kami mengambil nektarmu, kami juga akan membantu menebarkan serbuk sari dari bunga ke bunga. Itu akan membuatmu bisa berbuah dan menyebarkan anak-anakmu ke seluruh penjuru taman. Itu adalah kerja sama yang saling menguntungkan, lho."
"Omong kosong!" potong Bunga Matahari dengan angkuh. "Aku tidak butuh bantuan kalian! Aku sudah cantik dan besar seperti ini. Pergi sana sebelum aku memarahi kalian lebih keras!"
Ratu Lebah menghela napas panjang. Ia merasa sedih melihat sifat Bunga Matahari yang begitu kikir dan tidak tahu terima kasih. "Baiklah, kalau itu keinginanmu. Kami pergi. Semoga kamu bahagia dengan nektarmu sendiri."
Ratu Lebah dan pasukannya pun terbang meninggalkan tempat itu menuju bunga lain yang lebih ramah. Mereka mendatangi Bunga Melati, Bunga Mawar, dan Bunga Bugenvil. Semua bunga itu dengan senang hati memberikan nektarnya. Sebagai gantinya, para lebah dan kupu-kupu dengan rajin menempelkan serbuk sari ke mana pun mereka pergi.
Hari demi hari berlalu. Musim berganti menjadi lebih hangat. Bunga-bunga lain yang dermawan itu tumbuh semakin subur. Karena sering dikunjungi serangga, penyerbukan terjadi dengan sempurna. Mereka mulai berbuah lebat dan biji-biji baru mulai tersebar ke tanah di sekitarnya. Tak lama kemudian, muncul tunas-tunas kecil yang akan menjadi bunga-bunga baru. Taman itu menjadi semakin ramai dan indah.
Berbeda nasibnya dengan Bunga Matahari yang pelit itu. Sejak saat lebah pergi, tidak ada satu pun serangga yang mau mendekatinya. Mereka ingat betul bagaimana perlakuan kasar si Bunga Matahari. Ia ditinggalkan sendirian.
Awalnya ia merasa bangga, "Hahaha, lihat! Neektarku masih utuh semua! Aku yang paling kaya!"
Namun, lama-kelamaan ia merasa kesepian. Tidak ada yang menyapa, tidak ada yang bermain, dan yang paling parah, tidak ada yang membantu menebarkan serbuk sarinya. Bunga itu mulai menyadari bahwa tubuhnya terasa aneh. Buahnya tidak mau tumbuh besar dan keras, melainkan tetap kecil dan lembek. Biji-biji di dalamnya tidak berkembang dengan baik.
Waktu terus berjalan. Musim kemarau pun tiba. Matahari bersinar sangat terik dan air di tanah mulai berkurang. Bunga-bunga lain yang sudah memiliki akar yang kuat dan buah yang matang tetap bertahan dengan gagah. Tapi Bunga Matahari yang pelit itu mulai merasa lemas.
Karena tidak ada penyerbukan yang sempurna, tubuhnya menjadi lemah dan tidak tahan terhadap panas. Kelopaknya yang dulu cerah kini mulai menguning dan kering. Tangkainya yang dulu kokoh kini mulai membungkuk lesu. Nektar yang ia simpan dengan rakus itu justru menjadi kering dan mengental di dalamnya, tidak bisa digunakan untuk apa-apa.
"Aduh... apa yang terjadi padaku?" rintih Bunga Matahari. "Dulu aku begitu cantik dan tinggi, tapi sekarang aku terlihat jelek dan mau mati. Kenapa ya?"
Di saat itulah ia melihat ke sekelilingnya. Bunga-bunga lain terlihat bahagia. Mereka memiliki banyak teman serangga, dan mereka memiliki banyak anak-cucu yang tumbuh di sekitarnya. Sementara ia sendiri? Hanya ada dia sendiri yang tua dan menyedihkan.
Baru saat itu ia sadar. Ia mengingat perkataan Ratu Lebah dulu. Ternyata, dengan memberi, kita justru akan mendapatkan berkah. Dengan berbagi, kehidupan akan terus berputar dan tumbuh. Tapi jika kita menahan apa yang kita miliki hanya untuk diri sendiri, lama-kelamaan semuanya akan menjadi kering dan tidak berguna.
Air mata kesedihan menetes dari kelopaknya. "Aku menyesal... Aku sungguh menyesal sudah bersikap pelit dan sombong. Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku akan menyambut semua teman dengan senyuman dan berbagi sepuasnya."
Namun, sudah terlambat untuk musim ini. Tubuhnya perlahan layu dan bijinya gagal tumbuh. Pelajaran yang mahal ini menjadi peringatan bagi semua tumbuhan dan hewan di taman itu: Hati yang dermawan akan membuat hidup bermakna, tapi kekikiran hanya akan membawa pada kesepian dan keruntuhan.
Pesan Moral: Jangan pernah menjadi orang yang pelit dan sombong. Berbagi apa yang kita miliki tidak akan mengurangi rezeki kita, justru akan mendatangkan kebahagiaan dan manfaat yang besar bagi kehidupan kita dan orang lain.
