Dongeng : Putri Ikan dan Danau Toba

 



Di sebuah desa, hiduplah seorang petani sederhana. Usia petani itu sudah cukup untuk menikah. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. Ia mendapatkan seekor ikan emas cukup besar.


Ikan itu berubah menjadi seorang gadis yang cantik jelita. “Aku berutang budi padamu. Kau telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata,” katanya bahagia. “Karena kau telah menolongku, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu.”


Maka, jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada janji yang telah disepakati. Mereka tidak boleh menceritakan asal usul si gadis. Jika kelak dikaruniai anak, jangan sampai anak mereka tahu bahwa sang ibu adalah Putri Ikan. Jika janji itu dilanggar, akan terjadi petaka.


Setahun kemudian, sang Putri melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putra. Anak lelaki itu pun tumbuh menjadi anak yang manis, tetapi nakal. Putra mempunyai kebiasaan aneh. Ia selalu merasa lapar. Makanan untuk bertiga dapat dimakannya sendiri.


Suatu hari, Putra diberi tugas mengantarkan makanan ke sawah untuk ayahnya. Tetapi, ia menghabiskan makanan itu di tengah jalan. Tentu saja ayahnya murka karena harus menahan lapar dan haus. “Anak tak tahu diri! Dasar anak ikan!” umpat si petani tanpa sadar.


Sesaat setelah mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya lenyap. Dari bekas injakan kaki mereka, tiba-tiba menyembur air yang sangat deras. Desa si petani dan sekitarnya terendam. Air meluap dan meluas hingga membentuk sebuah danau. Penduduk sekitar menyebutnya Danau Toba.


sumber : blog.tempoinstitute.com