KURANG TIDUR BAWA DAMPAK SERIUS, PENINGKAT RISIKO PENYAKIT JANTUNG DAN DEMENSIA






 SURAKARTA, 12 Maret 2026 – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan peringatan penting tentang bahaya kurang tidur, setelah data menunjukkan bahwa lebih dari 60% penduduk Indonesia dewasa tidur kurang dari 6 jam per hari. Penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) menunjukkan bahwa kurang tidur jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 45% dan risiko demensia seperti penyakit Alzheimer hingga 50%.

 

Dr. dr. Heru Susanto, Sp.JP(K), ahli penyakit jantung dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi Surakarta, menjelaskan bahwa tidur yang cukup sangat penting untuk menjaga kesehatan sistem kardiovaskular. "Selama tidur, jantung kita bekerja lebih lambat dan tekanan darah menurun, memberikan kesempatan bagi jantung dan pembuluh darah untuk beristirahat dan memperbaiki diri," jelasnya dalam acara penyuluhan kesehatan yang digelar di Kota Surakarta.

 

Kurang tidur menyebabkan peningkatan kadar hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dalam tubuh, yang dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah secara terus-menerus. Hal ini dapat merusak dinding pembuluh darah dan meningkatkan risiko pembekuan darah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke.

 

Selain masalah pada jantung, penelitian juga menunjukkan hubungan yang kuat antara kurang tidur dan risiko demensia. Dr. dr. Lina Kusumawati, Sp.S(K), ahli saraf dari UNS, menjelaskan bahwa tidur yang cukup diperlukan untuk membersihkan zat-zat berbahaya dari otak, termasuk protein beta-amiloid yang terkait dengan penyakit Alzheimer. "Selama tahap tidur dalam, otak kita melakukan proses pembersihan yang sangat penting," ujarnya. "Jika kita kurang tidur, proses ini tidak dapat berjalan dengan baik, sehingga zat-zat berbahaya dapat menumpuk dan merusak sel-sel saraf."

 

Gejala yang muncul akibat kurang tidur antara lain kelelahan yang terus-menerus, sulit berkonsentrasi, gangguan memori, suasana hati yang tidak stabil, serta peningkatan nafsu makan yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Bagi sebagian orang, kurang tidur juga dapat menyebabkan masalah pada sistem imun, membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit lainnya.

 

Untuk mengatasi masalah kurang tidur, Kemenkes memberikan beberapa rekomendasi penting. Pertama, menjaga jadwal tidur yang teratur dengan tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari, bahkan pada akhir pekan. Kedua, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman dan mendukung, seperti kamar yang gelap, sejuk, dan tenang. Ketiga, menghindari konsumsi kafein, alkohol, dan makanan berat beberapa jam sebelum tidur. Keempat, mengurangi penggunaan perangkat elektronik seperti ponsel dan laptop sebelum tidur, karena cahaya biru yang dipancarkan dapat mengganggu siklus tidur alami tubuh.

 

Selain itu, para ahli juga menyarankan untuk melakukan aktivitas fisik secara teratur, karena olahraga dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Namun, penting untuk tidak melakukan olahraga secara intensif kurang dari 3 jam sebelum tidur, karena dapat meningkatkan kadar energi dan membuat sulit untuk tidur.

 

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya tidur yang cukup, pemerintah Kota Surakarta bekerja sama dengan UNS untuk meluncurkan kampanye "Tidur Cukup untuk Hidup Sehat". Kampanye ini akan menyebarkan informasi melalui media sosial, poster di tempat umum, serta penyuluhan di sekolah dan kantor. Selain itu, beberapa rumah sakit juga akan menyediakan layanan konseling tidur bagi mereka yang mengalami masalah tidur kronis.

 

"Kita sering mengorbankan waktu tidur untuk bekerja atau aktivitas lainnya, namun hal ini dapat memiliki dampak serius pada kesehatan kita di masa depan," ujar Walikota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka. "Mari kita mulai menjaga kebiasaan tidur yang baik sejak sekarang untuk melindungi kesehatan kita dan meningkatkan kualitas hidup."