Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus. Langkah ini dinilai penting guna menghindari penularan dan penyebaran Hantavirus di lingkungan tempat tinggal.
“Yang perlu diwaspadai adalah pada saat masyarakat membersihkan tempat-tempat yang memang di situ indikasi ada banyak tikus, harus ada kewaspadaan karena penularannya ada beberapa macam,” ujar Ani saat ditemui di kawasan Jakarta Barat, Senin.
Ani menjelaskan bahwa penularan Hantavirus dapat terjadi ketika kotoran, air liur, maupun air kencing dari tikus bercampur dengan partikel udara lalu terhirup oleh manusia. Selain melalui udara, virus ini juga berpotensi menyebar jika seseorang melakukan kontak langsung dengan sekresi tikus yang telah terkontaminasi, atau melalui gigitan tikus secara langsung.
Guna meminimalisasi risiko penularan saat membersihkan area yang terindikasi menjadi sarang tikus, Ani membagikan sejumlah tips aman bagi masyarakat. Salah satunya adalah dengan memastikan ventilasi udara di ruangan tersebut dalam kondisi baik sebelum mulai dibersihkan.
Masyarakat juga diingatkan dengan keras untuk tidak menyapu atau membersihkan kotoran tikus dalam keadaan kering, karena hal itu dapat membuat partikel virus terbang dan menyebar di udara.
“Jadi, harus disemprot dulu dengan disinfektan. Kalau di rumah, kita bisa menggunakan cairan pemutih yang biasa ada di rumah sebagai disinfektan sebelum dibersihkan kotorannya,” kata Ani menjelaskan.
Lebih lanjut, Ani menekankan pentingnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah pencegahan mendasar. Masyarakat diimbau untuk selalu mencuci tangan, baik sebelum maupun sesudah melakukan aktivitas. Bagi warga yang harus beraktivitas di tempat kotor atau area yang berpotensi menjadi sarang tikus, penggunaan alat pelindung diri sangat disarankan.
“Jangan lupa pakai masker, mungkin pakai pengaman yang lain,” tambahnya.
Kendati demikian, Ani meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik secara berlebihan dalam menghadapi Hantavirus. Ia menegaskan bahwa virus ini bukanlah jenis virus baru seperti halnya pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu, melainkan virus yang sudah dipantau secara berkala oleh pihak kesehatan setiap tahunnya.
