YOGYAKARTA, 15 Maret 2026 – Sebuah studi terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan bahwa lemak tidak jenuh yang terkandung dalam makanan seperti alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan sistem reproduksi dan meningkatkan kesuburan baik pada pria maupun wanita. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Reproductive Biology and Endocrinology ini membantah pandangan lama yang menganggap semua jenis lemak sebagai faktor risiko bagi kesehatan dan kesuburan.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan, kasus gangguan kesuburan di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, dengan sekitar 1 dari 6 pasangan mengalami kesulitan untuk memiliki anak. Beberapa faktor yang dikaitkan dengan peningkatan kasus ini antara lain gaya hidup tidak sehat, stres, polusi lingkungan, dan pola makan yang tidak tepat. Sebelumnya, banyak orang yang menghindari konsumsi lemak secara berlebihan karena khawatir akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes, namun penelitian baru ini menunjukkan bahwa jenis lemak yang dikonsumsi memiliki peran yang sangat penting.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. dr. Ratih Dewi Puspitasari, Sp.OG(K), menjelaskan bahwa lemak tidak jenuh, terutama asam lemak omega-3 dan omega-6, berperan dalam menghasilkan hormon reproduksi seperti estrogen dan testosteron. "Hormon-hormon ini sangat penting untuk mengatur siklus menstruasi pada wanita, memelihara kualitas sel telur, serta meningkatkan motilitas dan kualitas sperma pada pria," jelasnya dalam diskusi ilmiah yang digelar di Kampus UGM Yogyakarta.
Dalam penelitian yang melibatkan 500 pasangan yang sedang menjalani program kesuburan selama dua tahun, tim menemukan bahwa kelompok pasangan yang mengonsumsi makanan kaya lemak tidak jenuh secara teratur memiliki tingkat kehamilan yang 35% lebih tinggi dibandingkan kelompok yang mengonsumsi lebih banyak lemak jenuh atau lemak trans. Selain itu, mereka juga memiliki risiko lebih rendah mengalami keguguran dan komplikasi kehamilan.
Dr. Agus Priyo Utomo, ahli gizi dari Fakultas Kedokteran UGM, menambahkan bahwa lemak tidak jenuh juga berperan dalam mengurangi peradangan dalam tubuh yang dapat merusak sistem reproduksi. "Peradangan kronis dapat mengganggu fungsi ovarium pada wanita dan produksi sperma pada pria," katanya. "Sifat anti-inflamasi dari lemak tidak jenuh membantu menjaga kesehatan sel-sel reproduksi dan meningkatkan peluang kehamilan yang sehat."
Namun, para ahli juga menekankan bahwa konsumsi lemak tidak jenuh harus dalam jumlah yang tepat dan seimbang dengan nutrisi lain. "Kita tidak boleh mengonsumsi lemak tidak jenuh secara berlebihan karena tetap dapat menyebabkan peningkatan berat badan dan masalah kesehatan lainnya," jelas Dr. Ratih. "Rekomendasi konsumsi lemak tidak jenuh adalah sekitar 20-35% dari total asupan kalori harian, dengan lebih banyak memilih sumber lemak tidak jenuh tunggal seperti alpukat dan minyak zaitun dibandingkan lemak tidak jenuh ganda seperti minyak jagung atau kedelai."
Beberapa sumber makanan kaya lemak tidak jenuh yang disarankan antara lain alpukat, kacang almond, kacang mete, biji wijen, minyak zaitun, ikan salmon, ikan makarel, dan biji chia. Selain itu, para ahli juga mengimbau untuk menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan lemak trans seperti makanan cepat saji, produk olahan, dan minuman manis yang tinggi gula.
Untuk mendukung kesadaran masyarakat tentang hubungan antara nutrisi dan kesuburan, UGM bekerja sama dengan Ikatan Dokter Kandungan Indonesia (IDKI) untuk meluncurkan program edukasi bertajuk "Makan Sehat untuk Keluarga Bahagia". Program ini akan memberikan informasi tentang pola makan sehat untuk meningkatkan kesuburan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara gratis di beberapa puskesmas di Yogyakarta.
"Kesehatan reproduksi adalah bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan," ujar Dekan Fakultas Kedokteran UGM, Prof. Dr. dr. Ova Emilia, Sp.P(K). "Dengan memahami peran nutrisi yang tepat, terutama lemak tidak jenuh, kita dapat membantu banyak pasangan untuk mewujudkan keinginan mereka memiliki anak yang sehat."
Para peneliti berencana untuk melanjutkan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan panduan pola makan khusus bagi pasangan yang mengalami kesulitan kesuburan, serta menguji efektivitas intervensi nutrisi dalam meningkatkan hasil program kesuburan.
